Buta-Makna,-Cerita

___

Buta-Makna,-Cerita

.

Suatu hari dalam sebuah percakapan yang teramat seru, seorang teman bertanya perihal pengalaman hidup, lebih tepatnya yang sering di sebut dengan unforgettable experience. Aku jawab tidak punya, lantas Ia heran dan kembali bertanya, kenapa seorang seperti ‘anda’ belum mempunyai unforgettable experience. Dengan sedikit bodo amat akupun menerangkan bahwa yang ku rasakan selama hidup hampir 18 tahun di dunia ini bahwa belum ada sama sekali hal spesial atau prestasi yang dapat dibanggakan dalam diri ini. Lantas, Ia membantah dan merasa yakin bahwa sebenarnya aku punya tapi hanya tidak mau cerita saja.

“Lah yang punya pengalaman siapa? Benar tidak ada, mungkin aku perlu mendaki gunung tinggi-tinggi dan bertualang jauh-jauh dulu kali yak?” jawabku dengan pertanyaan yang bercanda berdasarkan idealisku yang taek.

Ia pun kembali membantah dan langsung menerangkan bahwa setiap orang pasti memiliki pengalaman yang berharga dan patut untuk terus diingat entah sekecil apapun hal tersebut.

“Anda ini lucu ya Pak, sering meminta orang lain untuk bersyukur tetapi diri anda saja mungkin masih kurang.” katanya terlihat kesal.

Tersenyum kecil karena merasa benar lucu, sembari membatin apa benar diriku sekurang bersyukur itu hingga Ia berani mengatakan hal seperti itu. Apakah ada jawabanku yang salah, hingga Ia dengan kesal mengataiku kurang bersyukur.

Ia pun langsung menyambung bicara lagi, kali ini dengan nada agak tegas dan intonasi bicara layaknya guru BK yang sedang memberi wejangan.

“Setidaknya kita itu harus banyak bersyukur dari hal-hal kecil, misal, untuk secangkir kopi setiap pagi, untuk semangkuk nasi buatan ibu, atau sekedar perasaan-perasaan yang hanya mampir yang mungkin anda anggap tidak penting. Dengan begitu, kita masih mempunyai alasan untuk bertahan.” tuturnya berubah sedikit lebai.

Dari sini aku mulai paham inti dari percakapan yang sekiranya tidak jelas arahnya ini. Bahwa unforgettable experience yang Ia maksud bukanlah semata-mata pengalaman yang didapat dengan susah payah atau dengan berdarah-darah. Tetapi pengalaman yang kita dapat dalam bagaimana kita memaknai setiap hal kecil yang berlalu-lalang melewati diri kita.

Dari sekian banyak moment yang terabadikan dalam jepretan kamera, entah hasilnya bagus atau tidak. Dari sekian foto yang terunggah, entah ramai komentar atau tidak. Semua hal tersebut menimbulkan ‘kebutaan’ akan makna yang sebenarnya dari sebuah perjalanan kehidupan. Mengabaikan hal-hal kecil seperti tempat-tempat yang pernah dikunjungi, raut-raut wajah yang pernah ditemui, momen-momen penting yang pernah dilalui, dan perasaan-perasaan yang pernah singgah di hati, hanya sibuk memotret untuk sekedar mendapatkan validasi dan pada akhirnya tidak dapat menjadi muhasabah diri.

Selesai.

Ditulis secara ala kadarnya dengan hanya menuruti idealisme.

Komentar